Nuklir

Nuklir-Pembangkit-300x140

 

Badan Tenaga Nuklir Nasional berupaya keras agar energi berbasis nuklir bisa dikembangkan. Jika uranium dianggap berbahaya, ada baiknya menggunakan thorium.

oleh Pardosi Tobing


Jakarta, ENNews –
Thorium masih terdengar asing bagi masyarakat awam. Belum seperti saudaranya, uranium, yang sudah akrab di tengah publik. Namun, keduanya sama-sama bisa digunakan sebagai alternatif sumber energi nuklir. Bedanya, limbah radio aktif yang dihasilkan thorium lebih rendah dibandingkan uranium. Soal cadangannya, tidak usah khawatir. Di Indonesia, diperkirakan terdapat cadangan thorium hingga 280.000 ton.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, Indonesia mempunyai potensi uranium 70.000 ton, thorium 3-4 kali lipatnya, 210.000-280.000 ton. “Itu kisaran, belum sampai kita dalami,” katanya di Kantor BATAN, Jakarta, Kamis (4/2).

Djarot menguraikan, cadangan thorium sebanyak 280.000 ton tersebut tersebar di Pulau Bangka, Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), dan Sulawesi Barat (Sulbar). “Thorium ada di daerah dimana ditemukan unsur tanah jarang, ada di pasir monasit, biasanya ada di Vietnam, Semenanjung Malaysia, Bangka, Kalbar, Kalteng, dan di Mamuju Sulbar,” ujarnya. Namun cadangan ini masih belum dapat dihitung menjadi energi listrik. “Sulit untuk diukur berapa jika dikonversi menjadi listrik.”

Meski begitu, hingga kini belum ada satu pun negara di dunia yang telah menggunakan thorium untuk pembangkit listrik. Sebab, teknologinya masih dalam tahap penelitian. Thorium juga tak bisa berdiri sendiri sebagai bahan bakar, harus dicampur dengan uranium. “Belum ada yang menerapkan PLTT (Pembangkit Listrik Tenaga Thorium) secara full. Thorium tidak bisa berdiri sendiri tanpa uranium. Dia butuh uranium sebagai inisiator. Tapi ini sudah diteliti dan masih diteliti banyak negara. Tantangannya bagaimana membuatnya siap menjadi bahan bakar,” paparnya.

Thorium memang masih membutuhkan penelitian yang panjang, belum dapat segera digunakan. Tetapi thorium memang sumber energi yang prospektif untuk masa depan. Biaya listrik yang dihasilkannya diperkirakan hanya US$ 6-8 sen/kWh. Karena itu Indonesia harus mulai mengembangkannya. “Listriknya kira-kira US$ 6-8 sen per kWh. Relatif lebih murah dibanding batubara. Ini sangat menjanjikan untuk masa depan. Indonesia harus melakukan penelitiannya dan itu tugas BATAN,” katanya.

Dibandingkan uranium, thorium memiliki beberapa kelebihan, terutama dari sisi dampak lingkungannya. Sebanyak 90% bahan bakar thorium akan bereaksi menghasilkan listrik, sedangkan uranium hanya 3%-5%, sehingga limbah radio aktif yang dihasilkan thorium jauh lebih kecil. “Limbahnya lebih sedikit dari uranium, tapi memang punya radio aktif. PLTN 1000 MW itu menghasilkan 300 meter kubik limbah radio aktif per tahun, 5% limbahnya usianya panjang. Kalau thorium yang limbahnya usianya panjang lebih rendah, kurang dari 5%, di bawah 300 meter kubik juga,” paparnya.

Thorium juga tidak menghasilkan plutonium pada proses reaksi nuklirnya sehingga tidak dapat disalahgunakan untuk tujuan persenjataan. “Ini tidak bisa dimanfaatkan sebagai senjata. Lebih aman,” ujarnya.

Sementara itu, pakar thorium dari International Atomic Energy Agency (IAEA), Matt Krauser, mengatakan, thorium juga lebih stabil dibanding uranium, hanya saja penggunaannya lebih sulit. “Dari sisi sifat fisiknya jauh lebih bagus dari uranium. Titik leburnya lebih tinggi, memang lebih rumit pengolahannya, tapi lebih stabil sifatnya. Thorium bisa dimanfaatkan dalam waktu lebih panjang,” tukas dia.

Adapun biaya untuk pengembangan dan penggunaan thorium kurang lebih sama dengan uranium, tergantung pada teknologi yang digunakan. “Biayanya hampir sama dengan uranium, sekarang tergantung teknologi yang akan dipilih,” tutupnya.

Diketahui, pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) masih menjadi wacana yang menuai pro dan kontra di Indonesia. Namun, survei dari BATAN menyebutkan bahwa 75% penduduk Indonesia setuju dengan pembangunan PLTN. Terkait hal ini, anggota Komisi VII DPR RI, Kurtubi, mendesak pemerintah segera membangun PLTN karena sudah ada dukungan dari sebagian besar masyarakat Indonesia. “Survei BATAN bilang penduduk kita 75% sudah terima (PLTN). Itu sudah cukup kuat, mau nunggu 100% ya tidak bisa,” kata Kurtubi dalam rapat kerja Komisi VII dengan Menteri ESDM di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (3/2).

Kurtubi menguraikan, Indonesia sudah membutuhkan PLTN karena kebutuhan listrik yang begitu besar. Lokasi-lokasi tertentu di Indonesia pun cocok dan relatif aman untuk PLTN, misalnya Kalimantan Tengah. “Lokasi bisa dicari berdasarkan pertimbangan ilmiah. Mungkin Kalimantan Tengah bagian selatan. Jadi mohon agar Bapak Menteri atau Komisi VII ini bikin sejarah untuk negeri tercinta ini, PLTN dibuka dengan persyaratan kelembagaan sudah ada, sistem sudah jalan ini,” ucapnya.

Dia menambahkan, penggunaan nuklir bukan hal yang tabu. Sumber-sumber energi fosil akan segera habis, Indonesia harus mulai menggunakan nuklir yang merupakan energi baru. “Kenapa enggak? Namanya saja, nuklir termasuk energi baru. Yang terbarukan saja yang dibahas. Yang energi baru belum,” tutupnya.